Menjaga perasaan orang lain, termasuk dalam menyampaikan apa yang kita anggap sebagai kebenaran, termasuk kearifan dan keluhuran budi. (Gus Mus)

Semangat untuk  menyampaikan apa yang aku anggap sebagai kebenaran, terutama saat diri sedang terpojokkan karena disalahkan, ataupun melihat satu hal yang saya anggap keliru, sering sangat meluap-luap mencari cara dan jalan, dan sering tak tertahankan bergelora.

Keinginan untuk memurnikan niat sering menimbulkan pertempuran lembut di dalam hati dan pikiran antara keinginan untuk berbuat kebaikan memelekkan mata orang lain akan hal yang aku anggap benar, dan  kesombongan diri untuk menunjukkan bahwa saya mengetahui suatu hal yang lebih benar. Dan biasanya perasaaan benar, bahwa saya akan berbuat kebaikan untuk membantu orang lain  yang keluar sebagai pemenang, dan dengan bangga saya nerocos menyatakan apa yang saya anggap benar. Ternyata pertimbangan terebut bukanlah satu hal yang utama dan terutama.

Pendapat Gus Mus,   “Menjaga perasaan orang lain, termasuk dalam menyampaikan apa yang kita anggap sebagai kebenaran, termasuk kearifan dan keluhuran budi“, memberikan wacana bahwa yang perlu dikedepankan adalah menjaga perasaan orang lain, sebagai suatu kearifan dan keluhuran budi. Menjaga perasaan orang lain ternyata lebih utama dibanding dari keharusan menyampaikan apa yang saya aggap sebagai kebenaran. Menjaga perasaan orang lain perlu dipertamakan untuk diusahakan dilakukan.

Saya akan terus berusaha menjaga perasaan orang lain dalam menyampaikan semua hal, termasuk dalam menyampaikan apa yang saya anggap sebagai kebenaran, terutama saat saya merasa dalam diri terpojok, dan ingin merubah pandangan orang lain. Saya akan menjaga perasaan orang lain, dengan cara berempati, menempatkan diri pada diri orang lain yang akan saya ajak bicara, agar saya bisa merasakan, apa yang dia rasakan saat mendengar kata-kata yang akan aku ucapkan. Selamat belajar …

About these ads