Category: Buku


Percaya

“Dulu aku cinta padanya dengan segenap hatiku, tapi waktu itu aku tidak sepenuhnya percaya dia. Sekarang aku percaya. Semuanya sudah lain. Kami berdua lebih dekat daripada cabang-cabang pohon. Biarpun misalnya kami terpisah, biarpun misalnya kami mati, kami masih akan bersama-sama. Karena itu, tak ada yang dapat membuatku kesepian lagi. Sekarang aku cuma berdoa semoga dia menemukan  yang dicarinya.” (Otsu,  Musashi karya Eiji Yoshikawa)

 

Ketika percaya telah hadir dan mendasari suatu hubungan, maka kegembiraan dan kebebasan akan menjadi warna hidup yang menghiasi peziarahan agung.

Penemuan rasa percaya hanya terlaksana diawali dengan hadirnya kerendahan hati dan rasa bersyukur atas karya Kasih Tuhan sang Pencipta Semesta.

Ketika setiap tarikan dan hembusan nafas dihargai sebagai suatu hadiah yang menakjubkan, maka rasa syukur akan terus menjadi lagu hidup dan setiap langkah perjalanan akan menjadi karya-karya tangan malaikat seperti  bunga penghias taman kehidupan.

Laskar Pelangi

Penjelajahan kecil lewat buku pertama dari novel tetralogi karya Andrea Hirata ini diawali dari SMS si Untung yang mau nitip dibelikan buku. Katanya buku novel bagus, judulnya Edensor…..Buku apaan pula ini.

Kebetulan aku menginap di Arya duta, dekat dengan toko Gunung Agung Jakarta. Aku mencari buku ini, tanya ke petugas, ternyata gampang banget, buku itu nampak mencolok di bagian buku laris. Ada empat seri kata yang jual. Ikutanlah aku beli 3 seri pertama yang sudah ada, Laskah Pelangi, Sang Pemimpi dan Edensor.

Sore ini baru selesai baca habis Laskar Pelangi. Bagus. Kesanku sehabis baca buku ini, langsung teringat novel pertama dari tetraloginya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia. Aku merasakan kesamaan dalam keasliannya, dan kedalaman jelajah setiap penjelasan. Namun beda jauh dalam konteks dan kontennya. Dalam Bumi Manusia kental berkisah tentang perjuangan manusia dewasa, buku Laskar Pelangi ringan bercerita tentang kebebasan mimpi anak-anak dan remaja. Sekaligus aku jadi teringat buku bagus , Toto Chan Gadis Kecil di Jendela, novel dari Tetsuko Kuroyanagi yang berkisah tentang sekolah yang tenang dan damai, belajar dari alam dan membentuk pribadi tanpa mengekang. Sekolah yang dilakukan sepenuhnya dari sudut pandang anak-anak.

Novel ini dengan ringan bercerita tentang kisah anak-anak di Belitong yang bersekolah di sekolah miskin, SD Muhammadiyah yang berlokasi dengan dengan PN Timah,yang jauh berbeda dalam penampilannya. Banyak kisah pengalaman anak-anak yang dididik oleh Bu Mus, sang ibu guru yang sabar dan baik, yang mengajar dan sekaligus menjadi teman  mulai dari kelas 1 SD sampai lulus SMP :):).

Banyak kisah penuh haru, kisah cinta , kisah petualangan, kisah persaingan menghiasi novel ini. Entah mengapa, membaca lembar demi lembar buku ini, aku merasa berenang balik mengarungi mimpi pribadiku sendiri. Mimpi masa anak-anak yang banyak ingin, banyak berkayal dan banyak nekat tanpa batasan. Dengan sangat liar dan indah dan kadang berlebih-lebihan, Andrea menggapai-gapai ujung mimpi dan kayal anak-anak. Aku merasakan lewat kalimat-kalimatnya, Andrea bercerita tentang sungguh bebasnya anak-anak berkhayal, bermimpi menggapai langit, bahkan tajam menusuk-nusuk awan melewati langit.

Dunia Pendidikan

Sungguh indah kesan Andrea tentang sekolahnya, yang aku yakin hal ini menjadi idaman para guru dan para pengelola sekolah. Aku kutip disini kalimat-kalimat mengesankan dari novel ini:

” Tak dapat dikatakan bahwa seluruh alumni sekolah Muhammadiyah Belitong telah menjadi orang yang sukses – apalagi secara material -namun para mantan pengajar sekolah itu patut bangga bahwa mereka telah mewariskan semacam rasa bersalah bagi mantan muridnya jika mencoba berdekatan dengan khianat terhadap amanah, jika mempertimbangkan dirinya merupakan bagian dari sebuah gerombolan atau rencana melawan hukum, dan jika membelakangi ayat-ayat Allah. Itulah panggilan tak sadar yang membimbing lurus jalan kami sebagai keyakinan yang dipegang teguh karena bekal dari pendidikan dasar Islam yang tangguh di sekolah miskin itu.”

Seberapa banyak sekolah saat ini yang mengutamakan nilai-nilai kehidupan baik seperti itu? Aku melihat sebagian sekolah saat ini lebih mengedepankan prestasi-prestasi akademis, lomba-lomba sesaat yang membanggakan dengan piala-piala besar penuh pamer.

Aku mencoba mereka-reka gambaran kata-kata dari novel ini, betapa dari sekolah yang miskin terbelakang yang jauh dari harapan, tercipta pribadi-pribadi tangguh dengan daya mimpi besar, sekaligus berselimut nilai-nilai kehidupan yang agung. Gambaran ini, seharusnya menjadikan suatu tantangan yang besar bagi anak-anak yang memiliki fasilitas lebih besar, yang secara teoritis memiliki peluang lebih besar untuk berprestasi.

Keberhasilan manusia bukan diukur dari materi yang dikumpulkan, bukan dari pangkat yang dicapai, atau pendidikan yang didapat, namun lebih kepada apa yang bisa diberikan oleh setiap pribadi bagi orang lain. Seberapa besar kita berguna dan bermakna bagi orang lain. Sungguh, pemahaman tersebut hanya akan subur tumbuh dari didikan para orang tua dan para guru yang berjuang di jalan Tuhan dengan penuh suka rela menanamkan nilai-nilai prinsip kebaikan yang bersifat univerasl, kepada anak didik dengan penuh rasa bangga. Andrea menuliskan kesannya yang diingat dari bapak gurunya, Pak Harfan:

“Pak Harfan berpesan hiduplah dengan memberi sebanyak-banyaknya, bukan menerima sebanyak-banyaknya. Hal ini terefleksi pada kehidupan puluhan mantan siswa Muhamamdiyah yang kukenal dekat secara pribadi. Mereka adalah tipikal orang yang sederhana namun bahagia dalam kesederhanaan itu”

Aku sendiri, lahir dan dibesarkan oleh bapak ibuku yang dari awal sampai pensiun berprofesi sebagai guru. Aku bangga menjadi anak guru. Waktu aku lulus perguruan tinggi, ibuku penuh haru berkata, bahwa bapak dan ibu bangga kamu bisa lulus sekolah lebih dari ibu dan bapak bisa capai, dan sekarang tugasmu untuk berkarya dan memberi sebanyak-banyaknya bagi orang lain yang memerlukan.

Novel ini banyak memberi kita pembelajaran, bahwa kemiskinan bukan halangan untuk menjadi pribadi yang tangguh, semuanya tergantung dari bagaimana masing-masing pribadi berani bermimpi dan bertarung untuk mewujutkannya.

Para orang tua ..para guru…anda memiliki tanggung jawab besar untuk masa depan anak-anak kita.

Ok..aku mau lanjut baca novel ke duanya…Mitha dan Chala nanti baca novel ini yaaaaaaa.

Selamat malam.

Mendidik Dengan Cerita – Resensi Buku

MENDIDIK DENGAN CERITA

Begitu indah dan mententeramkan  kulihat di depanku, saat anakku mulai berpindah dari alam sadar ke alam mimpinya dengan wajah tersenyum sambil memegang tanganku, membawa khayalannya terbang jauh meloncat-loncat bebas dari satu tepian awan ke tepian awan  yang lain, merangkai kata-kata ceritaku yang lepas memicu daya imaginasinya, yang baru saja selesai kudaraskan dari samping tempat tidurnya, untuk mengantarnya tidur.

Berapa sering kita meluangkan waktu di malam hari, sebelum anak kita tidur, bercerita tentang kecerdikan, nilai-nilai kebajikan, putri raja, pangeran, keluhuran, kebaikan hati dan lain-lain? Berapa sering kita mendengar permintaan dari anak kita untuk mengulang-ulang cerita yang sama tanpa bosannya, dan ingin ceritanya ditambah lagi, diperpanjang lagi? Berapa sering kita merasa kebingungan bagaimana cara untuk bercerita yang baik dan menyenangkan bagi anak-anak kita?

Buku Mendidik dengan Cerita adalah satu buku panduan praktis untuk mendongeng. Disusun berdasarkan ringkasan studi panjang dari uji coba di Sudan, Mesir, Yordania dan Lebanon, ditengah tugas sang penulis dalam mempersiapkan guru-guru bahasa di sebuah pesantren, dan tugas membimbing dalam uji coba di sekolah-sekolah dasar.

Buku panduan ini, sangat cocok untuk bisa dipergunakan oleh para guru Sekolah Dasar dalam mempersiapkan diri untuk memperkaya pelajaran bahasa dengan cara mendongeng, dimana di beberapa negara di Timur Tengah, cerita telah resmi menjadi bagian dari pelajaran bahasa dan telah ditetapkan jam khusus untuk itu. Buku ini disusun dengan komposisi yang sangat sederhana, mulai dari bagaimana mengarang cerita yang tapat untuk anak-anak, bagaimana cara bercerita kepada anak didik, penyimakan, ungkapan ulang siswa setelah penceritaan sampai dengan petunjuk bagi kepala sekolah untuk mengukur keberhasilan program mendidik dengan cerita ini. Selain itu, buku ini dilengkapi juga dengan cerita-cerita  beserta petunjuk khusus setiap cerita, tentang makna, tokoh dan hal-hal yang perlu diperhatikan. Buku ini sangat gampang untuk diikuti meskipun oleh orang awam yang baru mulai belajar bercerita. Hanya bermodal niat dan kemauan, kita bisa mulai mencoba  untuk menjadi seorang pendongeng, setelah membaca buku ini.

Bagian pertama buku ini menerangkan beberapa hal tentang cerita, antara lain:

  • Mengarang ceritayang secara ringkas dan gamblang memberikan gambaran tentang tiga unsur pokok dalam mengarang, yaitu ide yang terkandung dalam cerita, susunan ide yang teratur dan bahasa serta gaya bahasa yang dibentuk oleh ide. Di bab ini penulis menerangkan tentang unsur-unsur yang ada dalam mengarang cerita dari awal mula terbentuk ide, bagaimana kita menyusun ide dengan runtut dan teratur, serta penggunaan bahasa dan gaya bahasa yang tepat untuk usia anak yang dituju, dimana disarankan dalam mengarang cerita untuk anak, kita harus mempergunakan bahasa indah yang dapat dipergunakan dan dimengerti oleh anak. Sedikit lebih ‘tinggi’ dari bahasa sehari-hari anak-anak, agar bermanfaat untuk memperbaiki bahasa dan gaya bahasa anak.
  • Penceritaan, atau bercerita yang baik adalah menyebarkan  ruh baru yang kuat dan menampakkan gambaran yang hidup di hadapan pendengar. Pendongeng sangat berpengaruh besar bagi pendengarnya. Diperlukan banyak latihan agar mampu menyampaikan berbagai bentuk cerita dengan penyampaian yang menarik dan menyenangkan bagi pendengar. Keberanian untuk memanfaatkan seluruh potensi diri dalam bercerita, seperti menirukan suara binatang, menirukan gerakan-gerakan, memperagakan adalah contoh-contoh laku yang bisa dicoba untuk lebih mengesankan anak didik dalam menerima cerita. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penceritaan antara lain:
  • Pemilihan cerita, pemilihan cerita sedih atau gembira sangat tergantung kepada keadaan jiwa pendongen yang akan sangat berpengaruh kepda setiap penceritaan. Faktor lain dalam pemilihan cerita adalah situasi dan kondisi siswa
  • Penyiapan sebelum masuk kelas, merupakan suatu hal yang mutlak dilakukan oleh pendongeng . Setiap menit yang digunakan untuk berfikir dan mengolah cerita sekaligus mempersiapkannya sebelum pelajaran dimulai akan  membantu penyampaian
  • Pemilihan posisi duduk siswa perlu santai dan jauh dari kesan resmi serta menimbulkan rasa bebas jiwanya – dengan beberapa aturan tentunya. Jalinan keakraban yang wajar antara guru dan murid sangat kuat dalam menghidupkan suasana penuh kasih sayang dan menghibur. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu Bobby Porter dalam bukunya Quantum Teaching yang menyatakan bahwa keakraban guru dan murid adalah faktor utama dan pertama yang harus diraih guru agar mendapatkan hak mengajar di depan anak-anak. Suatu hal yang perlu pengorbanan dan penuh resiko bagi guru untuk melakukan hal ini, terutama untuk keluar dari daerah aman guru,sebagai seseorang yang ‘lebih tinggi’ posisinya dari pada murid-muridnya.
  • Penyimakan adalah pemahaman siswa secara penuh terhadap apa yang didengar dari kisah-kisah yang disampaikan guru. Dalam proses ini, imajinasi anak bebas terbang melewati pucuk-pucuk dedaunan pohon disekitar, menaiki bukit dan gunung mencapai ketinggian awan merasakan hangatnya sinar surya. Para siswa membayangkan dirinya bermain bersama para tokoh cerita.adalah pemahaman siswa secara penuh terhadap apa yang didengar dari kisah-kisah yang disampaikan guru. Dalam proses ini, imajinasi anak bebas terbang melewati pucuk-pucuk dedaunan pohon disekitar, menaiki bukit dan gunung mencapai ketinggian awan merasakan hangatnya sinar surya. Para siswa membayangkan dirinya bermain bersama para tokoh cerita. Mereka terlibat melalui kayalannya mengikuti cerita. Dalam bagian ini penulis mengingatkan perlunya anak untuk menceritakan kembali cerita yang mereka dengar dengan bahasa mereka sendiri untuk melatih anak mengemukakan pendapat, merangkai pengertian dan berbicara dengan runtun di depan umum, yang wujutnya bisa beraneka pilihan :
  1. Menjawab pertanyaan yang diajukan guru
  2. Menceritakan sebagian atau keseluruhan cerita dengan bahasa anak
  3. Saling tanya dan jawab antara anak-anak yang dibagi dalam 2 group
  4. Memperagakan tokoh-tokoh
  5. Menggambarkan tokoh-tokoh dan ceritanya dll

Bagian kedua buku ini berisi 30 buah cerita/dongeng yang masing-masing dilengkapi dengan petunjuk khusus cerita, antara lain:

  • Tokoh-tokoh dalam cerita dan karakternya
  • Pertanyaan-pertanyaan yang dapat diajukan ke siswa
  • Cara peragaan
  • Hal-hal yang harus ditekankan dalam cerita tersebut dll

Dongeng atau cerita adalah hal yang sangat digemari anak-anak kita, namun berapa banyak dongeng yang mereka terima di jaman sekarang ini. Serta berapa jam waktu yang kita luangkan untuk anak-anak kita agar mereka bisa bercerita menuangkan pikiran dan idenya dengan bebas tanpa kita memotongnya, karena kita merasa bosan. Betapa seorang anak sangat ingin bercerita, bisa dibaca juga di buku Toto –Chan si Gadis Kecil di tepi Jendela, buah karya Tetsuko Kuroyanagi, yang bercerita tentang seorang gadis yang dianggap banyak orang sebagai gadis nakal yang cerewet tak mau diam, namun dengan penanganan yang benar, tumbuh menjadi gadis yang cerdas dan menyenangkan

Anak seperti sebuah lembaran putih yang penuh imajinasi. Anak perlu sentuhan dan suntikan agar bisa bermakna lebih. Cerita mampu mendidik rasa, imajinasi, akhlak dan mengembangkan pengetahuan anak dengan cara aktif. Buku ini berguna tidak hanya untuk para guru sekolah dasar, namun sangat berguna juga untuk orang tua yang ingin lebih dekat dan ingin lebih banyak memberi bekal kepada anak –anaknya dengan cara  bercerita menuangkan ajaran-ajaran kasih yang bersifat universal dan terbuka untuk semua umat manusia , agar anak mampu mengolah dan mengembangkan sendiri sesuai usianya sebagai bekal hidupnya kelak.

Anakku tidur tenteram setelah aku bercerita penuh imajinasi.

Besok ceritain lagi yaaaa…..begitu katanya sebelum terlelap tidur….Kalimat sederhana yang membanggakanku dan membuat aku tersenyum sepanjang malam.

Terima kasih Tuhan, aku telah memaknai hidupku dengan menuangkan kasih kepada anak-anakku. Semoga Tuhan senantiasa menolongku di setiap hari-hariku.

Aku percaya Engkau lebih peduli dengan kesediaanku dibandingkan dengan kemampuanku.

  • Judul Asli                 : Al-Qissah fi al-Tarbiyah
  • Penulis                       : Dr. Abdul Aziz Abdul Majid
  • Penerbit asal           : Daar al Maarif, Mesir
  • Penerjemah             : Neneng Yanti Kh. Dan Iip Dzulkifli Yahya
  • Penerbit                    : PT REMAJA ROSDAKARYA
  • ISBN                           : 979-692-087-5
  • Jumlah halaman   : 205 halaman


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: